HIDUP HANYA SEKALI MAKA HIDUPLAH YANG BERMANFAAT,HIDUP INI AKAN TERASA INDAH JIKA KITA SALING BERBAGI DENGAN SESAMA

Teori Dalam Proses Penelitian

Teori merupakan landasan akademis dari setiap disiplin Ilmu. Ada bebrapa hal yang menguatkan argumen tersebut, yaitu:
  1. Teori merupakan alat untuk mengorganisasikan pemahaman kita mengenai dunia. Hal tersebut kita tidak melihat dunia dalam bentuk data bits, namun dalam bentuk informasi yang telah tersusun dan tersintesis. Dengan teori-teori, kita mampu untuk menemukan pola dan merumuskan hubungan antara informasi-informasi tentang dunia. Dengan demikian, teori-teori merupakan bentuk pengetahuan yang terakumulasikan.
  2. Teori memfokuskan perhatian kita pada variabel-variabel dan hubungan-hubungan yang penting. Teori-teori menjadi suatu peta dan panduan bagi kita untuk bisa menginterpretasi, menjelaskan dan memahami kompleksitas dari hubungan manusia dan kejadian-kejadian yang terjadi. Oleh karena itu, teori juga dapat membantu kita untuk memprediksi hasil atau efek dari data-data.
  3. Teori bersifat sangat penting dalam kehidupan akademis, yaitu karena teori-teori yang sudah ada dapat memberikan ide untuk penelitian-penelitian selanjutnya, sekaligus memberikan panduan untuk pelaksanaan studi yang dapat mengisi kekosongan pengetahuan. Teori juga memungkinkan kita untuk mentransfer dan mengkomunikasikan pengetahuan.
  4. Teori dapat melakukan evaluasi. Berdasarkan teori-teori, kita dapat mengkritisi efektifitas dan kelayakan perilaku tertentu. Teori bahkan memberikan kita suatu cara untuk mempertanyakan budeaya-budaya kehidupan yang sudah berlaku dan menciptakan cara-cara hidup alternatif atau bahkan cara-cara yang baru.
Karakteristik Teori
Ada beberapa karakteristik teori, yaitu:
  1. Teori merupakan abstraksi
Teori mereduksi pengalaman-pengalaman menjadi suatu set kategori yang terfokus pada suatu hal tertentu yang spesifik dan tidak mampu menjelaskan keseluruhan realitas yang terjadi. Tidak ada satupun teori yang mampu mengcover keseluruhan realitas.
  1. Teori merupakan konstruksi
Teori merepresentasikan berbagai macam pandangan pencipta teori tentang hal-hal yang terjadi di sekitar. Teori tidak merefleksikan realitas. Oleh karena itu, kenyataan seperti apapun dapat dikemukakan dalam berbagai macam cara tergantung pada orientasi pencipta teori tersebut.
  1. Teori sangat terkait dengan aksi
Teori melandasi bagaimana kita berpikir dan berperilaku. Sedangkan teori merupakan struktur pemahaman terhadap hal-hal yang kita lakukan. Oleh karena itu, keduanya saling terkait dan tidak terpisahkan.
Elemen-elemen Dasar dari Teori
Elemen dasar dari suatu teori adalah KONSEP atau kategori.Oleh karena itu, tujuan utama dari suatu teori adalah merepresentasikan suatu set konsep yang sudah terindentifikasi. Konsep tersebut dijelaskan melalui simbol-simbol—yang biasanya berupa kata—dan serangkaian istilah yang telah menjadi bagian integral dari teori tersebut.
Teori-teori yang hanya mengemukakan konsep atau menyebutkan serangkaian kategori, tanpa disertai penjelasan bagaimana kategori tersebut terhubung satu sama lain, disebut : taxonomi.Teori-teori terbaik adalah teori yang memberikan penjelasan—eksplanasi—bagaimana kategori (variabel) yang ada terhubung satu sama lain. Penjelasan tersebut menunjukkan keteraturan atau pola hubungan antar variuabel.
Ada beberapa tipe penjelasan—eksplanasi, namun yang paling umum yaitu:
  1. Causal Explanation –penjelasan sebab akibat
Yaitu menghubungkan kejadian-kejadian dalam hubungan sebab-akibat, yang mana satu variabel merupakan hasil atau akibat dari variabel yang lain, atau sebaliknya. Dalam hal ini, hasil merupakan suatu respon.Kejadian konsekuensi (consequent event) ditentukan oleh beberapa kejadian antecedent.
  1. Practiced Explanation—Penjelasan Praktis
Yaitu menjelaskan bahwa tindakan-tindakan merupakan tujuan yang saling berkaitan, yang mana suatu tindakan telah didesain untuk mencapai suatu tujuan tertentu.Suatu tindakan dipandang dapat dikontrol dan strategis. Oleh karena itu, suatu hasil berarti merupakan keluaran dari tindakan yang telah dipilih untuk dilakukan sebelumnya.
Standar Tradisional Idealisme Teori
Ilmu sosial tradisional didominasi oleh suatu pendekatan terhadap teori dan riset yang menggunakan model eksperimen pada ilmu-ilmu alam—disebut “hypothetico deductive method”. Metode ini terdiri dari empat proses dasar, yaitu: (1) mengembangkan pertanyaan penelitian; (2) merumuskan hipotesis; (3) melakukan pengujian terhadap hipotesis; dan (4) memformulasikan teori. Pendekatan tersebut berlandaskan pada asumsi bahwa kita bisa mendapatkan pemahaman terbaik tentang suatu hal melalui analisis terhadap bagian-bagian—the variable-analytic tradition.
“Hypothetico-deductive method” berlandaskan lima konsep dasar, yaitu:
  1. Hypothesis (Hipotesis)
Yaitu dugaan yang terstruktur tentang hubungan antara variabel-variabel dalam penelitian. Hipotesis ini tersusun berdasarkan intuisis, pengalaman pribadi, atau penelitian yang paling diminati. Hipotesis seharusnya dilakuakn melalui proses induktif—generalisasi dari beragam observasi. Suatu hipotesis harus bisa diuji dan berada dalam kerangka yang memungkinkan terjadinya penolakan, dalam kata lain hipotesis tidak selalu benar.
  1. Operationalism (Operasionalisasi)
Yaitu: penjelasan secara rinci tentang bagaimana konsep-konsep akan diteliti. Operasionalisme menyatakan prinsip-prinsip yang mana keseluruhan variabel dalam hipotesis harus dinyatakan dalam bentuk-bentuk  yang menjelaskan secara pasti bagaimana variabel-varibel tersebut akan diobservasi.
Operasionalisme bergantung pada skala pengukuran—measurement, yaitu ada dua kriteria:
  • Validitas, yaitu derajat ketepatan observasi dalam mengukur apa yang semestinya diukur.
  • Reliabilitas, yaitu derajat yang mengukur konstruksi secara akurat, dan paling sering dinilai berdasarkan konsistensinya.
  1. Control and Manipulation (Kontrol dan Manipulasi)
Faktor tersebut digunakan untuk menetukan hubungan kausalitas. Jika salah satu variabel dilakukan secara konstan (kontrol) sementara variabel lain dijalankan secara beragam (manipulasi), peneliti akan mampu mendeteksi efek dari variabel yang termanipulasi tanpa memikirkan apakah variabel yang lain mempunyai efek tersembunyi.
  1. Covering Laws (Konseptual)
Yaitu pernyataan teoritis mengenai sebab-akibat yang relevan dengan variabel-variabel sepanjang situasi. Dalam ilmu tradisional, faktor tersebut dinilai signifikan karena kemampuannya dalam menjelaskan kejadian. Faktor tersebut juga memungkinkan peneliti untuk melakukan prediksi mengenai kejadian-kejadian yang mungkin terjadi.
  1. Prediction (Prediksi)
Prediksi merupakan hasil penelitian paling penting karena memberikan gambaran bagi orang-orang tentang lingkungannya. Teori memang tidak merefleksikan tatanan segala sesuatu di dunia ini secara akurat dan komplet, namun teori yang baik dapat memperkirakan hal-hal tersebut.
Sebuah Paradigma Alternatif
Robyn Penman telah merumuskan lima prinsip paradigma alternatif, yaitu:
  1. Tindakan adalah bersifat “voluntary”—dilakukan secara sukarela`.
  2. Pengetahuan diciptakan secara sosial. Tidak ada hubungan satu-satu diantara ide-ide dalam suatu teori dan realitas objektif.
  3. Teori-teori bersifat historis karena merefleksikan settting dan waktu ketika teori tersebut dirumuskan.
  4. Teori mempengaruhi realitas yang diliputinya
  5. Teori bersifat bias nilai dan tidak pernah bersifat netral.
Teori Perkembangan dan Perubahan
Teori merupakan hasil karya yang senantiasa berkembang. Inti dari teori adalah  aplikasi secara ketat terhadap metode yang sudah disepakati dimana subyek bahasannya  dikaji dicermati dan dinilai dengan menggunakan pendekatan, terma-terma atau metodologi tertentu.
Perkembangan teori yang baik merupakan proses pengujian dan formulasi berkelanjutan. Dalam pandangan tradisional, pengujian semacam ini merupakan proses pengembangan hipotesa mengani dunia nyata. Sementara dalam pandangan teori paradigma alternatif, hal ini merupkan proses penyempurnaan kerngka krja, interpretasi guna memahami terjadinya berbagai hal.
Perkembangan teori senantiasa membutuhkan penelitian. Riset memungkinkan i9nvestigasi untuk menemukan fakta-fakta yang dinilai signifikan juga memungkinkan peneliti untuk menguji kekuatan prediksi teori atau interpretasinya. Serta merupakan sarana yang baik untuk pengembangan dan artikulasi teori tersebut di masa datang.
Perubahan teori dapat berlangsung berbagai cara, bisa sedikit demi sedikit berkembang dari pemahaman realitas yang ada untuk menambahkan konsep baru pada konsep lama. Perkembangannya bisa sangat cepat tergantung pemahamn konsep individual pencipta teori.
Metateori
Yaitu bidang yang berupaya untuk menjelaskan kesamaan dan perbedaan teori yang ada.. Metateori merupakan teori tentang teori. Metateori dsapat dikategorikan menjadi tiga tema besar, yaitu: epistemologi (pertanyaaan mengenai pengetahuan, ontologi (pertanyaan mengenai eksistensi), aksiologi (pertanyaan mengenai nilai.

Isu-Isu Epistemologi
Adalah cabang filsafat yang mengkaji pengetahuan—bagaimana orang bisa mengetahui dan apa yang mereka klaim telah ketahui. Epistemologi bisa dijelasdkan dengan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
  • Sejauh apa pengetahuan eksis sebelum adanya pengalaman?
  • Seberapa jauh pengetahuan bisa dipastikan?
  • Bagaimana proses pengetahuan itu bisa muncul?
  • Apakah pengetahuan sebaiknya dipahamisepotong-sepotong atau menyeluruh?
  • Seberapa jauh pengetahuan bersifat eksplisit?


Isu-isu Ontologi
Adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan eksistensi atau lebih singkatnya dengan pencarian kita akan pengetahuan. Ada empat pertanyaan dasar di dalam ontologi, yaitu:
  • Seberapa jauh manusia membuat pilihannya secara bebas?
  • Apakah perilaku manusia dipahami sebagai dorongan kepentingan sesaat—kondisiona—atau karakteristik dasarnya.
  • Apakah pengetahuan manusia bersifat individual atau sosial.

Isu-isu Aksiologi
Yaitu cabang filsafat yang mengkaji mengenai nilai-nilai. Ada tiga pertanyaan dasar yng penting, yaitu:
  • Apakah teori bersifat bebas nilai?
  • Seberapa jauh teknis untuk melakukan penelitian mempengaruhi apa yang diteliti?
  • Seberapa jauh penelitian ditujukan untuk menciptakan perubahan sosial?

Bagaimana Mengevaluasi Suatu Teori Komunikasi
Beragamnya teori komunikasi membutuhkan patokan dasar daalam pengkajian masing-masing teori tersebut. Berikut kriteria-kriteria yang digunakan untuk menilai suatu teori:
~        Lingkup Teoritis
Yaitu seberapa komprehensif atau inklusif sebuah teori terbentuk. Lingkup teori didasarkan pada prinsip generalisasi, atau ide bahwa suatu teori harus mampu menjelaskan kondisi berdasarkan satu penelitian.
~        Ketepatan
Pertanyaan apakah asumsi teori bersangkutan secara epistemologis, ontologis dan aksiologis tepat dengan metode riset yang digunakan.
~        Nilai-nilai Heuristik
Apakah teori tersebut mendorong lahirnya ide untuk penelitian atau teori baru.
~        Validitas
Yaitu kebenaran nilai suatu teori. Ada tiga arti dalam hal ini, yaitu (1) apakah teori tersebut mempunyai kegunaan; (2) apakah validitas tersebut sesuai atau cocok antara konsep dan aplikasinya; dan (3) validitas berkaitan dengan generalisasi.
~        Penyederhanaan
Berkaitan dengan simplisitas logis, yaitu bagaimana menyampaikan sesuatu secara simple namun mencakup keseluruhanm makna.
~        Keterbukaan
Sebuah teori harus terbuka terhadap kemungkinan-kemungkinan perubahan baru.
Sumber:
Littlejohn, Stephen W. Theories of Human Communication – seveth edition. 1997. SAGE Publication
Share this article :
 

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. JALUR MUSAFIR - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger